Rabu, 11 Mei 2011

Refleksi Pertanyaan (Kuliah Filsafat oleh Pak Marsigit)

Ø Aan: siapakah yang mempelajari hakekatnya hakekat?

Berikut adalah tabel peta filsafat

Ontologi

Epistemologi

Aksiologi

Ontologi

· Merupakan hakekatnya hakekat

· Dinamakan metafisik

Hakekat dari kebenaran / metode

Kebenaran / metode hakekat

Estetikanya hakekat

Hakekat dari estetika

Epistemologi

Kebenarannya hakekat

Hakekat kebenaran

· Metodenya metode

· Kebenaranya kebenaran

Estetikanya kebenaran

Estetika dari kebenaran

Aksiologi

Hakekatnya estetika

Estetikanya hakekat

Kebenaran estetika

Estetika kebenaran

· Estetikanya estetika

Keterangan:

Ontologi : mempelajari sumber-sumber hakekat

Epistemoligi : mempelajari sumber-sumber kebenaran dan metode

Aksiologi : mempelajari sumber-sumber etik, estetika, symbol

Berbicara tentang estetikanya estetika, maka kita berbicara tentang etik secara etik. Seperti contohnya saat resepsi pernikahan, saat para sepuh sedang memberikan wejangan tentang kehidupan, saat itulah orang bicara tentang estetikanya estetika.

Berbicara tentang kebenaranya kebenaran, maka sampailah kita pada bahasan segala yang benar-benar benar. Apa yang benar kadang belum tentu seutuhnya benar karena adanya batas ruang dan waktu.

Berbicara tentang hakekatnya hakekat, maka tidak lain tidak bukan adalah berbicara tentang Tuhan. Karena yang mengetahui hakekatnya hakekat tidak lain tidak bukan adalah Tuhan sendiri.

Ø Nana:

- Bagaimana cara mengajari orang sholat?

Tingkatan hidup seseorang meningkat dari kebutuhan material, formal, normatif, dan spiritual. Spiritual merupakan tingkakan yang paling tinggi, sehingga untuk mencapai titik kesempurnaan dalam hal spiritual, haruslah dilakukan dengan guru-guru spiritual yang dipercayai. Untuk dapat mengajarinya sholat, maka kita harus dulu menjadi guru spiritual baginya. Karena guru spiritual tidak hanya mengajari, namun juga mampu mengajak melakukan sesuatu.

- Bagaimanya caranya agar hati dapat mengendalikan pikiran?

Jawabannya cukup singkat, yaitu dengan membenahi cara-cara kita beribadah, maka hati kita mampu mengendalikan apa yang kita pikirkan

Ø Janu: Seberapa krusial peran filsafat dalam proses pembenahan bangsa?

Yang paling krusial ialah ketika orang yang berkuasa berusaha untuk menguasai filsafat bangsa tersebut. Orang yang berkuasa pastilah berkarakter, seperti contohnya penjajah Belanda, orang-orang Belanda yang menjajah saat itu pastilah memiliki karakter, dari dan untuk Belanda. Dalam tiap orde pemerintahan di Indonesia pun memiliki karakter yang berbeda-beda. Guru tradisional pun memiliki karakter masing-masing, tak ada yang sama satu sama lain. Apabila karakter bertemu dengan kuasa, maka jadilah sesuatu itu bersifat tradisional.

Ø Ana: Bagaimana cara memahami karakteristik siswa?

Cara yang paling mudah ialah dengan berkomunikasi. Semakin banyak atau sering kita berkomunikasi dengan siswa, maka semakin mengertilah kita dengan jalan pikiran siswa, sehingga semakin mudah pula kita mengetahui karakternya.

Ø Puput: Apakah relevan, jika para orang tua mengambil pesan moral yang diajarkan oleh dalang cilik itu?

Wayang merupakan suatu bentuk aksiologi/estetika. Namun dalam wayang tersebut, terdapatlah estetikanya hakekat (aksiologinya ontologi), estetikanya metode (aksiologinya epistemologi), serta estetikanya estetika itu sendiri (aksiologinya aksiologi).

Dalang cilik, hanya terbatas pada aksiologinya ontology. Yaitu hanya pada pengenalan hakekat sebenarnya wayang. Mereka (para dalang cilik) barulah menceritakan kisah-kisah yang ada dalam pewayangan secara teori dan hapalan, jadi belum ada pesan moral atau critical-critical thinking dalam kehidupan kita atau juga penyampaian pengalaman hidup. Mereka baru menceritakan separuh dari dunia wayang, dan hanya hafalan. Jadi memang kurang relevan untuk kebutuhan pesan moral bagi orang dewasa. Hanyalah memiliki sifat entertain bagi orang-orang dewasa.

Ø Intan:

- Bagaimana cara mengatasi gugup/panic?

Cara paling ampuh ialah dengan berdoa yang khusuk, mencari guru spiritual, perbanyak istigfar dan mohon ampun. Dijamin, gugup/panic akan segera hilang.

- Apakah hubungan sejarah dan filsafat?

Filsafat mempelajari sesuatu yang tadi, sekarang, dan yang akan datang. Sesuatu yang telah lewat itulah yang kita sebut sejarah. Maka jelaslah hubungan sejarah dan filsafat, yaitu sejarah merupakan suatu bagian yang dipelajari dalam filsafat.

Ø Kadek: apakah filsafat gending Jawa itu?

Gending Jawa itu merupakan suatu harmoni. Harmoni memiliki makna sadar terhadap ruang dan waktu. Sadar dan waktu nya gending-gending jawa ialah ketika alat-alat tersebut bunyi sesuai dengan alunan lagunya sehingga membentuk harmoni yang luar biasa indahnya.

Ø Nurika: bagaimana bisa Syeh Siti Jenar mengganggap dirinya Tuhan?

Tidak perlu melihat terlalu jauh sampai pada Syeh Siti Jenar untuk melihat seseorang yang menganggap dirinya Tuhan. Kita pun kadang merasa diri kita adalah Tuhan, ketika kita merasa kita sudah menyatu dengan Tuhan. Ketika pada tingkatan yang paling tinggi, kita tak mampu mengendalikan diri kita, maka kesombongan diri itulah yang membuat kita menganggap diri kita ini Tuhan. Sama seperti kesombongan Syeh Siti Jenar yang mengaku-aku di depan Tuhan.

Ø Husna: bagaimanakah orang yang bijaksana itu?

Filsafat itu bijaksana. Maka para filsuf itu merupakan orang-orang yang berusaha untuk menjadi bijaksana, atau menggapai bijaksana itu. Elegy pun tak jauh beda dengan filsafat. Hanya Tuhan dan orang-orang pilihan-Nya lah yang secar mutlak dikatakan bijaksana. Secara filsafat, orang yang bijaksana ialah orang yang berilmu serta mempunyai rasa dan karsa. Menurut orang barat, orang yang bijaksana ialah orang yang mencari ilmu. Sedangkan menurut orang timur, orang yang bijaksana ialah orang yang member ilmu.

Ø Tyas Wirani: bagaimana cara mengajarkan materi kepada siswa yang daya tangkapnya lamban?

Mengajarkan digarisbawahi. Kata mengajarkan itu kurang tepat untuk digunakan pada jaman sekarang ini. Kita sebagai pendidik, bukan mengajarkan materi, melainkan mencari cara kreatif agar siswa itu mau belajar secara kreatif pula. Kreatif bukanlah diperintah, hanya difasilitasi. Mereka dapat dengan merdeka menggunakan cara belajar mereka masing-masing.

Ø Nisa: Bagaimana cara menjunjung kesopanan terhadap ruang dan waktu?

Ada kalanya mengabaikan ruang dan waktu itu juga menghargai ruang dan waktu yang lain. Karena hidup kita ini suatu reduksi, maka memang pada suatu ruang dan waktu, pastilah kita mengabaikan ruang dan waktu yang lain,oleh sebab itu, kita harus pandai memilah-milah. Jika itu memang baik maka baiklah untuk kita. Hidup itu mereduksi, maka hargailah yang telah ada.

Ø Ita: antara hati dan pikiran, apakah harus seimbang?

Segala yang kita butuhkan haruslah seimbang. Secara material (emosi), formal, normative (cinta), serta spiritual. Spiritual inilah yang merupakan paying dari segala kebutuhan yang kita butuhkan, termasuk pikiran kita.

2 komentar: