Margaretha Putrining Tyas
08301241037
P. Matematika Subsidi 08
Filsafat Matematika dan Filsafat Pendidikan Matematika
Kuliah Filsafat Pak Marsigit
Berikut merupakan sebuah gambar, contoh fenomena sehari-hari dulu kala, yaitu fenomena yang terjadi pada peradaban manusia kuno di jaman Mesopotamia, Babilonia, dan Mesir.
Dengan suatu contoh tentang abstraksi terhadap sesuatu yang kita jumpai dan mampu melekat erat dalam pikiran kita, kemudian kaum-kaum cendekia dari Yunani mulai memikirkan sesuatu. Yaitu tentang matematika sehari-hari yang juga perlu dilakukan abstraksi serta idealisasi sehingga dapatlah dengan mudah matematika itu diBUKTIkan.
Alam berpikir manusia ialah alam transenden yaitu terdiri dari 2 paham. Yang pertama yaitu paham yang diajarkan oleh Perminedes yaitu bahwa pikiran manusia itu tetap adanya, tanpa ada perubahan. Sedangkan yang kedua, pikiran manusia itu berubah. Lebih fleksible, tergantung akan ruang dan waktu. Yaitu paham yang diajarkan oleh Heraclitos. Perubahan yang dimaksud ialah perubahan system berpikir, perubahan struktur berpikir, juga bangunan dalam pikiran kita. Perubahan yang terjadipun berdasarkan pada pondamen yang ada. Jika kita sesalu meletakkan dasar setiap akan melakukan sesuatu, maka kita berada dalam lingkar ideology pondamentalism. Namun jika kita tanpa dasar melakukan sesuatu, maka kita tergolong dalam kaum intuisionism.
Matematika jika dilihat dari paham yang pertama, yaitu Pondalism, terbagi menjadi 4 kategori yaitu: tunggal, dual, multi, dan pluralism. Dimana masing-masing kategori bersifat absolute dan relatif. Pondasi inilah yang menyebabkan adanya hermeneutika pendidikan. Yaitu matematika perlu adanya ektensi yang luas seluas-luasnya serta intense yang dalam sedalam-dalamnya.
Secara filsafat, matematika juga masih tetap berada dalam unsure ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Suatu abstraksi (contohnya gambar tadi), merupakan suatu fenomena kehidupan. Sedangkan apa yang ada dalam pikiran merupakan noumenenya.
Sesuai apa yang kita diskusikan dalam perkuliahan sebelumnya, kita tahu bahwa dunia sesungguhnya terbagi menjadi 2 bagian, yaitu dunia yang terikat oleh ruang dan waktu serta dunia yang terbebas oleh ruang dan waktu. Dunia yang terbebas oleh ruang dan waktu ialah dunia yang berada dalam ranah pikiran manusia, transenden, noumena. Para pengikut Hilbert, kaum Fondamentalis, Formalis, Aksiomatis. Memiliki sifat rigor, Apodiktik, Tunggal, Pasif, Konsisten. Juga sifat koheren, identitas serta absolutnya. Pengikutnya ialah orang-orang UGM, ITB, UI, IPB, Matematikawan. Yaitu kaum-kaum pendukung pelaksanaan UN. Sedangkan dunia yang terikat oleh ruang dan waktu memiliki sifat kontradiktif, relatif, plural, serta korenpondensi. Para pengikutnya ialah orang-orang UNY, IKIP, Sekolah dan siswa. Orang-orang yang peka akan adanya hal-hal yang kurang pas dalam dunia pendidikan.
Oleh sebab itu, sebagai gerakan revolusi pendidikan, Dr. Marsigit, M.A memberanikan diri untuk menulis Surat Terbuka kepada Presiden, dengan tujuan agar dibaca khalayak umum sehingga khalayak umum sadar akan ketidak tepatan sistem pendidikan di Indonesia ini. Seperti yang telah saya sebutkan diatas, selama masih ada UN, maka pendidikan matematika tidak akan baik. Karena pendidikan masih dikuasai UGM, ITB, dkk, yaitu kaum-kaum fondamentalis, yang sama sekali tak memiliki basic pendidikan. Bagi kaum-kaum pendidik, jika kita masih belum sadar dan tidak benar-benar paham akan hal itu, berarti kita masih tergabung pada pemikiran kaum-kaum yang terbebas oleh ruang dan waktu. Jika kita telah mulai sadar, maka ide ‘Revolusi Pendidikan’ pastilah menjadi solusi utama perubahan system yang salah di Indonesia ini. Kaum yang terbebas oleh ruang dan waktu merupakan kaum-kaum Pure Mathematician yang menganut absolutism. Sedangkan kaum-kaum Educatician merupakan kaum-kaum kontruktivis dan socio, dan sesungguhnya kaum-kaum seperti itulah yang tahu bagaimana cara memperlakukan orang lain, taruhlah peserta didik, dengan baik. Karena jiwa sosialnya telah dibentuk sejak awal, sehingga sense of psychology nya lebih baik/peka.
Berdasarkan teorinya, pembelajaran dengan metode RME (Realistic Mathematic Education), pada tingkatan SD, mereka mengenal matematika melalui benda konkrit seperti alat peraga. Tingkat SMP melalui skema, tingkat SMA melalui model, dan barulah tingkat PT mempelajarinya secara abstrak/formal, dengan pembuktian-pembuktian teorema yang digunakan pada tingkat bawahnya. Menurut Gestalt, berkaitan dengan skema kognisi, pembelajaran secara Deduksi, dari umum ke detail, lebih cocok digunakan di bangku SD dan SMP daripada secara Induksi, dari detail ke umum.
08301241037
P. Matematika Subsidi 08
Filsafat Matematika dan Filsafat Pendidikan Matematika
Kuliah Filsafat Pak Marsigit
Berikut merupakan sebuah gambar, contoh fenomena sehari-hari dulu kala, yaitu fenomena yang terjadi pada peradaban manusia kuno di jaman Mesopotamia, Babilonia, dan Mesir.

Dengan suatu contoh tentang abstraksi terhadap sesuatu yang kita jumpai dan mampu melekat erat dalam pikiran kita, kemudian kaum-kaum cendekia dari Yunani mulai memikirkan sesuatu. Yaitu tentang matematika sehari-hari yang juga perlu dilakukan abstraksi serta idealisasi sehingga dapatlah dengan mudah matematika itu diBUKTIkan.
Alam berpikir manusia ialah alam transenden yaitu terdiri dari 2 paham. Yang pertama yaitu paham yang diajarkan oleh Perminedes yaitu bahwa pikiran manusia itu tetap adanya, tanpa ada perubahan. Sedangkan yang kedua, pikiran manusia itu berubah. Lebih fleksible, tergantung akan ruang dan waktu. Yaitu paham yang diajarkan oleh Heraclitos. Perubahan yang dimaksud ialah perubahan system berpikir, perubahan struktur berpikir, juga bangunan dalam pikiran kita. Perubahan yang terjadipun berdasarkan pada pondamen yang ada. Jika kita sesalu meletakkan dasar setiap akan melakukan sesuatu, maka kita berada dalam lingkar ideology pondamentalism. Namun jika kita tanpa dasar melakukan sesuatu, maka kita tergolong dalam kaum intuisionism.
Matematika jika dilihat dari paham yang pertama, yaitu Pondalism, terbagi menjadi 4 kategori yaitu: tunggal, dual, multi, dan pluralism. Dimana masing-masing kategori bersifat absolute dan relatif. Pondasi inilah yang menyebabkan adanya hermeneutika pendidikan. Yaitu matematika perlu adanya ektensi yang luas seluas-luasnya serta intense yang dalam sedalam-dalamnya.
Secara filsafat, matematika juga masih tetap berada dalam unsure ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Suatu abstraksi (contohnya gambar tadi), merupakan suatu fenomena kehidupan. Sedangkan apa yang ada dalam pikiran merupakan noumenenya.
Sesuai apa yang kita diskusikan dalam perkuliahan sebelumnya, kita tahu bahwa dunia sesungguhnya terbagi menjadi 2 bagian, yaitu dunia yang terikat oleh ruang dan waktu serta dunia yang terbebas oleh ruang dan waktu. Dunia yang terbebas oleh ruang dan waktu ialah dunia yang berada dalam ranah pikiran manusia, transenden, noumena. Para pengikut Hilbert, kaum Fondamentalis, Formalis, Aksiomatis. Memiliki sifat rigor, Apodiktik, Tunggal, Pasif, Konsisten. Juga sifat koheren, identitas serta absolutnya. Pengikutnya ialah orang-orang UGM, ITB, UI, IPB, Matematikawan. Yaitu kaum-kaum pendukung pelaksanaan UN. Sedangkan dunia yang terikat oleh ruang dan waktu memiliki sifat kontradiktif, relatif, plural, serta korenpondensi. Para pengikutnya ialah orang-orang UNY, IKIP, Sekolah dan siswa. Orang-orang yang peka akan adanya hal-hal yang kurang pas dalam dunia pendidikan.
Oleh sebab itu, sebagai gerakan revolusi pendidikan, Dr. Marsigit, M.A memberanikan diri untuk menulis Surat Terbuka kepada Presiden, dengan tujuan agar dibaca khalayak umum sehingga khalayak umum sadar akan ketidak tepatan sistem pendidikan di Indonesia ini. Seperti yang telah saya sebutkan diatas, selama masih ada UN, maka pendidikan matematika tidak akan baik. Karena pendidikan masih dikuasai UGM, ITB, dkk, yaitu kaum-kaum fondamentalis, yang sama sekali tak memiliki basic pendidikan. Bagi kaum-kaum pendidik, jika kita masih belum sadar dan tidak benar-benar paham akan hal itu, berarti kita masih tergabung pada pemikiran kaum-kaum yang terbebas oleh ruang dan waktu. Jika kita telah mulai sadar, maka ide ‘Revolusi Pendidikan’ pastilah menjadi solusi utama perubahan system yang salah di Indonesia ini. Kaum yang terbebas oleh ruang dan waktu merupakan kaum-kaum Pure Mathematician yang menganut absolutism. Sedangkan kaum-kaum Educatician merupakan kaum-kaum kontruktivis dan socio, dan sesungguhnya kaum-kaum seperti itulah yang tahu bagaimana cara memperlakukan orang lain, taruhlah peserta didik, dengan baik. Karena jiwa sosialnya telah dibentuk sejak awal, sehingga sense of psychology nya lebih baik/peka.
Berdasarkan teorinya, pembelajaran dengan metode RME (Realistic Mathematic Education), pada tingkatan SD, mereka mengenal matematika melalui benda konkrit seperti alat peraga. Tingkat SMP melalui skema, tingkat SMA melalui model, dan barulah tingkat PT mempelajarinya secara abstrak/formal, dengan pembuktian-pembuktian teorema yang digunakan pada tingkat bawahnya. Menurut Gestalt, berkaitan dengan skema kognisi, pembelajaran secara Deduksi, dari umum ke detail, lebih cocok digunakan di bangku SD dan SMP daripada secara Induksi, dari detail ke umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar