(Kuliah Filsafat oleh Pak Marsigit)
Dalam dunia ini, sering kita dapati sesuatu itu berpasang-pasangan. Ada gelap, ada terang. Ada hitam, ada putih. Ada besar, ada kecil. Dan masing banyak pasangan yang dapat kita temukan dalam dunia ini. Tak beda halnya denga filsafat, ada subyek-predikat, fatal-vital, logos-mitos, subyektif-obyektif, bejo-ciloko, yang lalu-sekarang-yang akan datang. Dilihat dari segi ontology filsafat, ada intensif-tidak intensif, ekstensif-tidak ekstensif, ada-tidak ada. Secara epistemology ada sumber-tak ada sumber, ada benar-salah. Secara aksiologi, ada baik-tidak baik, ada etis-tidak etis.
Segala yang ada dan disebutkan merupakan bagian dari dunia filsafat. Padahal filsafat itu kontekstual, alami, natural, pemahaman, saling kenal, dan yang terpenting ialah, filsafat hanya berada dalam pikiran kita. Karena menurut Immanuel Kant, dunia ini merupakan filsafat, dan filsafat ini adalah pikiranku, maka dunia ini tidak lain tidak bukan merupakan pikiranku.
Dalam dunia pendidikan matematika, terdapatlah pula filsafat pendidikan matematika. Agar filsafat itu tak hanya terbatas pada pikiran manusia, maka gabungkanlah filsafat pada umumnya dengan filsafat pendidikan matematika hingga terbentuklah penerapannya. Penerapan dari apa yang ada dalam pikiran kita.
Perbedaan dalam dunia ini kadang membawa kita dalam suatu pertanyaan seperti misalnya bagaimaka kita dapat membedakan fatal dan vital. Dalam pemikiran kita, fatal dan vital tak dapat dibedakan secara pasti, namun adanya fatal dan vital itu untuk dijalani, dimengerti, dan diberikan contoh-contahnya. Dengan menggunakan contoh pasti kita akan lebih paham tentang maksud fatal dan vital itu. Jarak antara fatal dan vital adalah pikiranmu. Karena fatal dan vital berada dalam pikiranmu, maka hanya pikiranmulah yang tahu jarak keduanya. Filsafat tak lepas pula dari ada, pengada dan mengaja. Masih bergerak pada fatal dan vital, tak ada yang tahu soal jodoh, sakit, sehat, dan lain-lain. Hanyalah doa yang mampu menjawab semua tanya hati.
Bila berbicara ontologinya filsafat, maka kita pun berbicara tentang keselarasan antara manusia dan alam. Interaksi antara pikiran, doa, dengan alam dalam bentuk normatif, formal, spiritual, material, dan dalam level intensif dan ekstensif. Pengalaman religi tentang ikatan pikiran dan alam itu merupakan pengalaman pribadi yang tak dapat diceritakan kepada orang lain. Jika kita ceritakan, maka unsure religi yang kita yakini kadang hilang dan hasur dapat dicerilakan secara logis, dan bukanlah lagi menjadi pengalaman religi kita. Agama dapat dihubungkan dengan budaya karena agama merupakan sarana untuk mengatur hubungan Tuhan dengan ciptaannya. Dalam agama ada budaya. Namun bagi orang kafir, mereka sengaja mencari agama dalam budaya kemudian sedikit demi sedikit dilakukan perubahan-perubahan prinsip yang kadang tidak masuk akal. Hanya berpikir secara intensif tapi tanpa dilakukan, atau istilah singkatnya berimajinasi memiliki arti hanya terdapatlah separuh dunia dalam jiwanya. Begitu pula dengan mitos yang merupakan trnsormasi terhadap ruang dan waktu, mitos pun termasuk dalam separuh dunia manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita dihadapkan pada dilematis dunia. Apa yang ada atau diputuskan, kadang tak sesuai dengan nurani seseorang. Ini berarti orang tersebut belum mampu sopan terhadap ruang dan waktu. Hal inilah yang disebut dengan penyakit masyarakat. Penyakit dalam hal spiritual misalnya bermasalah dalam berdoa. Contoh sesuatu yang normatifnya bermasalah yaitu tidak punya unggah ungguh. Jika formalnya yang bermasalah maka contoh konkret nya ialah kakinya pincang.
Jika kita berbicara tentang bejo dan ciloko, tak ada sesuatu yang akan dapat sama mendefinisikanny. Karena bejo-ciloko menurut manusia biasa ≠ dengan bejo-ciloko menurut manusia tak biasa ≠ bejo-ciloko menurut pejuang ≠ bejo ciloko menurut Nabi/ Malaikat. Mereka saling menggelar dimensinya masing-masing. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari Tuhan berarti datangnya dari setan. Seperti contohnya jimat, sesuatu yang jauh dari kepercayaan kita pada Tuhan.
Ketika kita (sebagai calon guru) dihadapkan pada suatu metode penilaian yang digunakan, haruslah bersifat obyektif, bukan subyektif semata. Untuk membentuk siswa yang baik, maka tanyalah pada dirimu sendiri.
Bila kita berbicara tentang pengaruh masa lalu pada masa sekarang dan masa yang akan datang, secara filsafat mensejarah, apa yang terjadi pada masa sekarang dan masa mendatang memang dipengaruhi oleh masa lampau. Namun menurut filsafat fondationalism, apa yang terjadi tergantung dari mana kita menetapkan startnya. Tak peduli apa yang telah terjadi pada masa lampau, jika kita mulai pada masa sekarang, maka masa sekaranglah yang perlu dipikirkan kedepannya.
Kembali lagi jika kita berbicara pada hitam putihnya dunia ini, tak terlepas pula dari apa itu filsafat hitam, apa makna filsafat putih, dan yang terakhir, apa arti filsafat hitam putih. Terimakasih telah bersedia menbaca tulisan ini. Semoga bermanfaat. Tuhan Memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar