Rabu, 25 Mei 2011

Hitam Putih Dunia

(Kuliah Filsafat oleh Pak Marsigit)

Dalam dunia ini, sering kita dapati sesuatu itu berpasang-pasangan. Ada gelap, ada terang. Ada hitam, ada putih. Ada besar, ada kecil. Dan masing banyak pasangan yang dapat kita temukan dalam dunia ini. Tak beda halnya denga filsafat, ada subyek-predikat, fatal-vital, logos-mitos, subyektif-obyektif, bejo-ciloko, yang lalu-sekarang-yang akan datang. Dilihat dari segi ontology filsafat, ada intensif-tidak intensif, ekstensif-tidak ekstensif, ada-tidak ada. Secara epistemology ada sumber-tak ada sumber, ada benar-salah. Secara aksiologi, ada baik-tidak baik, ada etis-tidak etis.

Segala yang ada dan disebutkan merupakan bagian dari dunia filsafat. Padahal filsafat itu kontekstual, alami, natural, pemahaman, saling kenal, dan yang terpenting ialah, filsafat hanya berada dalam pikiran kita. Karena menurut Immanuel Kant, dunia ini merupakan filsafat, dan filsafat ini adalah pikiranku, maka dunia ini tidak lain tidak bukan merupakan pikiranku.

Dalam dunia pendidikan matematika, terdapatlah pula filsafat pendidikan matematika. Agar filsafat itu tak hanya terbatas pada pikiran manusia, maka gabungkanlah filsafat pada umumnya dengan filsafat pendidikan matematika hingga terbentuklah penerapannya. Penerapan dari apa yang ada dalam pikiran kita.

Perbedaan dalam dunia ini kadang membawa kita dalam suatu pertanyaan seperti misalnya bagaimaka kita dapat membedakan fatal dan vital. Dalam pemikiran kita, fatal dan vital tak dapat dibedakan secara pasti, namun adanya fatal dan vital itu untuk dijalani, dimengerti, dan diberikan contoh-contahnya. Dengan menggunakan contoh pasti kita akan lebih paham tentang maksud fatal dan vital itu. Jarak antara fatal dan vital adalah pikiranmu. Karena fatal dan vital berada dalam pikiranmu, maka hanya pikiranmulah yang tahu jarak keduanya. Filsafat tak lepas pula dari ada, pengada dan mengaja. Masih bergerak pada fatal dan vital, tak ada yang tahu soal jodoh, sakit, sehat, dan lain-lain. Hanyalah doa yang mampu menjawab semua tanya hati.

Bila berbicara ontologinya filsafat, maka kita pun berbicara tentang keselarasan antara manusia dan alam. Interaksi antara pikiran, doa, dengan alam dalam bentuk normatif, formal, spiritual, material, dan dalam level intensif dan ekstensif. Pengalaman religi tentang ikatan pikiran dan alam itu merupakan pengalaman pribadi yang tak dapat diceritakan kepada orang lain. Jika kita ceritakan, maka unsure religi yang kita yakini kadang hilang dan hasur dapat dicerilakan secara logis, dan bukanlah lagi menjadi pengalaman religi kita. Agama dapat dihubungkan dengan budaya karena agama merupakan sarana untuk mengatur hubungan Tuhan dengan ciptaannya. Dalam agama ada budaya. Namun bagi orang kafir, mereka sengaja mencari agama dalam budaya kemudian sedikit demi sedikit dilakukan perubahan-perubahan prinsip yang kadang tidak masuk akal. Hanya berpikir secara intensif tapi tanpa dilakukan, atau istilah singkatnya berimajinasi memiliki arti hanya terdapatlah separuh dunia dalam jiwanya. Begitu pula dengan mitos yang merupakan trnsormasi terhadap ruang dan waktu, mitos pun termasuk dalam separuh dunia manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita dihadapkan pada dilematis dunia. Apa yang ada atau diputuskan, kadang tak sesuai dengan nurani seseorang. Ini berarti orang tersebut belum mampu sopan terhadap ruang dan waktu. Hal inilah yang disebut dengan penyakit masyarakat. Penyakit dalam hal spiritual misalnya bermasalah dalam berdoa. Contoh sesuatu yang normatifnya bermasalah yaitu tidak punya unggah ungguh. Jika formalnya yang bermasalah maka contoh konkret nya ialah kakinya pincang.

Jika kita berbicara tentang bejo dan ciloko, tak ada sesuatu yang akan dapat sama mendefinisikanny. Karena bejo-ciloko menurut manusia biasa ≠ dengan bejo-ciloko menurut manusia tak biasa ≠ bejo-ciloko menurut pejuang ≠ bejo ciloko menurut Nabi/ Malaikat. Mereka saling menggelar dimensinya masing-masing. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari Tuhan berarti datangnya dari setan. Seperti contohnya jimat, sesuatu yang jauh dari kepercayaan kita pada Tuhan.

Ketika kita (sebagai calon guru) dihadapkan pada suatu metode penilaian yang digunakan, haruslah bersifat obyektif, bukan subyektif semata. Untuk membentuk siswa yang baik, maka tanyalah pada dirimu sendiri.

Bila kita berbicara tentang pengaruh masa lalu pada masa sekarang dan masa yang akan datang, secara filsafat mensejarah, apa yang terjadi pada masa sekarang dan masa mendatang memang dipengaruhi oleh masa lampau. Namun menurut filsafat fondationalism, apa yang terjadi tergantung dari mana kita menetapkan startnya. Tak peduli apa yang telah terjadi pada masa lampau, jika kita mulai pada masa sekarang, maka masa sekaranglah yang perlu dipikirkan kedepannya.

Kembali lagi jika kita berbicara pada hitam putihnya dunia ini, tak terlepas pula dari apa itu filsafat hitam, apa makna filsafat putih, dan yang terakhir, apa arti filsafat hitam putih. Terimakasih telah bersedia menbaca tulisan ini. Semoga bermanfaat. Tuhan Memberkati.

Rabu, 11 Mei 2011

Refleksi Pertanyaan (Kuliah Filsafat oleh Pak Marsigit)

Ø Aan: siapakah yang mempelajari hakekatnya hakekat?

Berikut adalah tabel peta filsafat

Ontologi

Epistemologi

Aksiologi

Ontologi

· Merupakan hakekatnya hakekat

· Dinamakan metafisik

Hakekat dari kebenaran / metode

Kebenaran / metode hakekat

Estetikanya hakekat

Hakekat dari estetika

Epistemologi

Kebenarannya hakekat

Hakekat kebenaran

· Metodenya metode

· Kebenaranya kebenaran

Estetikanya kebenaran

Estetika dari kebenaran

Aksiologi

Hakekatnya estetika

Estetikanya hakekat

Kebenaran estetika

Estetika kebenaran

· Estetikanya estetika

Keterangan:

Ontologi : mempelajari sumber-sumber hakekat

Epistemoligi : mempelajari sumber-sumber kebenaran dan metode

Aksiologi : mempelajari sumber-sumber etik, estetika, symbol

Berbicara tentang estetikanya estetika, maka kita berbicara tentang etik secara etik. Seperti contohnya saat resepsi pernikahan, saat para sepuh sedang memberikan wejangan tentang kehidupan, saat itulah orang bicara tentang estetikanya estetika.

Berbicara tentang kebenaranya kebenaran, maka sampailah kita pada bahasan segala yang benar-benar benar. Apa yang benar kadang belum tentu seutuhnya benar karena adanya batas ruang dan waktu.

Berbicara tentang hakekatnya hakekat, maka tidak lain tidak bukan adalah berbicara tentang Tuhan. Karena yang mengetahui hakekatnya hakekat tidak lain tidak bukan adalah Tuhan sendiri.

Ø Nana:

- Bagaimana cara mengajari orang sholat?

Tingkatan hidup seseorang meningkat dari kebutuhan material, formal, normatif, dan spiritual. Spiritual merupakan tingkakan yang paling tinggi, sehingga untuk mencapai titik kesempurnaan dalam hal spiritual, haruslah dilakukan dengan guru-guru spiritual yang dipercayai. Untuk dapat mengajarinya sholat, maka kita harus dulu menjadi guru spiritual baginya. Karena guru spiritual tidak hanya mengajari, namun juga mampu mengajak melakukan sesuatu.

- Bagaimanya caranya agar hati dapat mengendalikan pikiran?

Jawabannya cukup singkat, yaitu dengan membenahi cara-cara kita beribadah, maka hati kita mampu mengendalikan apa yang kita pikirkan

Ø Janu: Seberapa krusial peran filsafat dalam proses pembenahan bangsa?

Yang paling krusial ialah ketika orang yang berkuasa berusaha untuk menguasai filsafat bangsa tersebut. Orang yang berkuasa pastilah berkarakter, seperti contohnya penjajah Belanda, orang-orang Belanda yang menjajah saat itu pastilah memiliki karakter, dari dan untuk Belanda. Dalam tiap orde pemerintahan di Indonesia pun memiliki karakter yang berbeda-beda. Guru tradisional pun memiliki karakter masing-masing, tak ada yang sama satu sama lain. Apabila karakter bertemu dengan kuasa, maka jadilah sesuatu itu bersifat tradisional.

Ø Ana: Bagaimana cara memahami karakteristik siswa?

Cara yang paling mudah ialah dengan berkomunikasi. Semakin banyak atau sering kita berkomunikasi dengan siswa, maka semakin mengertilah kita dengan jalan pikiran siswa, sehingga semakin mudah pula kita mengetahui karakternya.

Ø Puput: Apakah relevan, jika para orang tua mengambil pesan moral yang diajarkan oleh dalang cilik itu?

Wayang merupakan suatu bentuk aksiologi/estetika. Namun dalam wayang tersebut, terdapatlah estetikanya hakekat (aksiologinya ontologi), estetikanya metode (aksiologinya epistemologi), serta estetikanya estetika itu sendiri (aksiologinya aksiologi).

Dalang cilik, hanya terbatas pada aksiologinya ontology. Yaitu hanya pada pengenalan hakekat sebenarnya wayang. Mereka (para dalang cilik) barulah menceritakan kisah-kisah yang ada dalam pewayangan secara teori dan hapalan, jadi belum ada pesan moral atau critical-critical thinking dalam kehidupan kita atau juga penyampaian pengalaman hidup. Mereka baru menceritakan separuh dari dunia wayang, dan hanya hafalan. Jadi memang kurang relevan untuk kebutuhan pesan moral bagi orang dewasa. Hanyalah memiliki sifat entertain bagi orang-orang dewasa.

Ø Intan:

- Bagaimana cara mengatasi gugup/panic?

Cara paling ampuh ialah dengan berdoa yang khusuk, mencari guru spiritual, perbanyak istigfar dan mohon ampun. Dijamin, gugup/panic akan segera hilang.

- Apakah hubungan sejarah dan filsafat?

Filsafat mempelajari sesuatu yang tadi, sekarang, dan yang akan datang. Sesuatu yang telah lewat itulah yang kita sebut sejarah. Maka jelaslah hubungan sejarah dan filsafat, yaitu sejarah merupakan suatu bagian yang dipelajari dalam filsafat.

Ø Kadek: apakah filsafat gending Jawa itu?

Gending Jawa itu merupakan suatu harmoni. Harmoni memiliki makna sadar terhadap ruang dan waktu. Sadar dan waktu nya gending-gending jawa ialah ketika alat-alat tersebut bunyi sesuai dengan alunan lagunya sehingga membentuk harmoni yang luar biasa indahnya.

Ø Nurika: bagaimana bisa Syeh Siti Jenar mengganggap dirinya Tuhan?

Tidak perlu melihat terlalu jauh sampai pada Syeh Siti Jenar untuk melihat seseorang yang menganggap dirinya Tuhan. Kita pun kadang merasa diri kita adalah Tuhan, ketika kita merasa kita sudah menyatu dengan Tuhan. Ketika pada tingkatan yang paling tinggi, kita tak mampu mengendalikan diri kita, maka kesombongan diri itulah yang membuat kita menganggap diri kita ini Tuhan. Sama seperti kesombongan Syeh Siti Jenar yang mengaku-aku di depan Tuhan.

Ø Husna: bagaimanakah orang yang bijaksana itu?

Filsafat itu bijaksana. Maka para filsuf itu merupakan orang-orang yang berusaha untuk menjadi bijaksana, atau menggapai bijaksana itu. Elegy pun tak jauh beda dengan filsafat. Hanya Tuhan dan orang-orang pilihan-Nya lah yang secar mutlak dikatakan bijaksana. Secara filsafat, orang yang bijaksana ialah orang yang berilmu serta mempunyai rasa dan karsa. Menurut orang barat, orang yang bijaksana ialah orang yang mencari ilmu. Sedangkan menurut orang timur, orang yang bijaksana ialah orang yang member ilmu.

Ø Tyas Wirani: bagaimana cara mengajarkan materi kepada siswa yang daya tangkapnya lamban?

Mengajarkan digarisbawahi. Kata mengajarkan itu kurang tepat untuk digunakan pada jaman sekarang ini. Kita sebagai pendidik, bukan mengajarkan materi, melainkan mencari cara kreatif agar siswa itu mau belajar secara kreatif pula. Kreatif bukanlah diperintah, hanya difasilitasi. Mereka dapat dengan merdeka menggunakan cara belajar mereka masing-masing.

Ø Nisa: Bagaimana cara menjunjung kesopanan terhadap ruang dan waktu?

Ada kalanya mengabaikan ruang dan waktu itu juga menghargai ruang dan waktu yang lain. Karena hidup kita ini suatu reduksi, maka memang pada suatu ruang dan waktu, pastilah kita mengabaikan ruang dan waktu yang lain,oleh sebab itu, kita harus pandai memilah-milah. Jika itu memang baik maka baiklah untuk kita. Hidup itu mereduksi, maka hargailah yang telah ada.

Ø Ita: antara hati dan pikiran, apakah harus seimbang?

Segala yang kita butuhkan haruslah seimbang. Secara material (emosi), formal, normative (cinta), serta spiritual. Spiritual inilah yang merupakan paying dari segala kebutuhan yang kita butuhkan, termasuk pikiran kita.