Rabu, 01 Juni 2011

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika

Kuliah Filsafat oleh Pak Marsigit

Perkuliahan filsafat pendidikan matematika lebih diwarnai dengan adanya elegi-elegi yang dipostingkan oleh Bapak Marsigit dalam blog “The South Circle of Life Philosophy: The Rebellion of Mathematics Education”. Dalam elegi-elegi tersebut, nilai-nilai fislafat dijabarkan sangat luas seluas-luasnya dan dalam sedalam-dalamnya. Banyak kesempatan yang diberikan oleh Bapak Marsigit untuk mempelajari filsafat melalui elegi-elegi tersebut. Namun masih banyak dari mahasiswa yang kurang memaknainya. Sebagian buktinya adalah dengan banyaknya comment-comment yang ‘nggak nyambung’ dengan apa isi elegi tersebut.

Dalam refleksi perkuliahan kali ini, disampaikan pula permohonan maaf yang sebesar-besarnya oleh Pak Marsigit, atas segala kelancangan-kelancangan. Kelancangan atas panggilan yang diberikan pada Aristoteles, Plato, dll tanpa gelar yang seharusnya. Atas kelancangan berfilsafat, karena berbicara tentang hakekat filsafat. Atas kemarahan filsafat karena tidak tahu bagaimana menempatkan diri sendiri. Atas kesombongan dan arogansi berfilsafat karena tidak berbicara sesuai kapasitasnya. Berbicara sesuai kapasitas membutuhkan perjuangan yang menimbulkan dampak dan resiko. Agar mempu menghadapi tantangan yang ada, maka baiklah banyak berlatih mengelola resiko, harapan, dan tantangan.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak yang beranggapan bahwa Pak Marsigit merupakan tipe orang skepticisms. Bagi beliau tak ada yang salah atas anggapan orang terhadapnya, dan bukan menjadi suatu masalah. Yang penting untuk menjadi masalah bagi beliau adalah fenomena yang terjadi akhir-akhir ini yaitu tentang standart isi. Standart isi merupakan suatu bentuk kesombongan para ilmuan yang akhirnya menjadi proyek-proyek individual. Beliau tak terlalu nyaman membaca berita tersebut dan lebih nyaman membaca berita tentang strand math learning. Strand dalam bahasa Indonesia berarti untaian. Maka pembelajaran matematika merupakan suatu untaian yang indah.

Berbicara soal filsafat, filsafat itu berbahaya jika hanya berfikir secara parsial. Seperti contohnya pada elegi Hantu RSBI, jika kita berpikir secara parsial, maka yang ada dalam pikiran hanya yang berbau mistis dan seputar masalah kematian (RIP). Dalam transformasi dunia, sebagai manusia ciptaan Tuhan, terdapat suatu kedudukan yang tetap dalam hubungan fisik dan spiritual. Sehingga berpikir kritis diperlukan dalam berfilsafat untuk membayangkan dunia.

Dalam matematika, sering kita jumpai simbol seperti di bawah ini:

Dalam kacamata spiritual, A memiliki arti dosa kita sebagai manusia. memiliki arti kesadaran atas kesalahan kita dan permohonan maaf kita pada Tuhan yang tak terhingga. Dan 0 menunjukkan maaf dari Tuhan sehingga kita bersih lagi menjadi 0. Maka arti keseluruhannya ialah, ketika kita sebagai manusia yang pasti memiliki dosa, bila dalam setiap kehidupan, setiap saat, setiap detik, kita mampu menyadari kesalahan kita dan selalu memohon maaf yang tiada batasnya, maka dapatlah kita ampunan oleh Tuhan, sehingga seolah kita terlahir kembali tanpa dosa, kosong seperti pada mulanya.

Keikhlasan itu seperti . Setinggi-tinginya derajat manusia, akan kalah dengan derajat orang ikhlas. Karena bila seorang manusia (x) yang hidup berdasarkan pada rasa ikhlas (0), maka jadilah orang itu serupa dengan gambar dan rupa Allah, mendekati keesaan Tuhan itu sendiri. Namun keikhlasan yang berlebihan juga akan berbahanya, maka jadilah seseorang yang selalu menjalankan sesuatu sesuai dengan porsinya.

Akhirnya, tibalah pada kesimpulan refleksi filsafat kita semester ini, bahwa sehakiki-hakikinya filsafat belajar matematika adalah jika sampai pada akhirnya sendirilah yang merupakan matematika itu sendiri. Anak TK, SD boleh dikatakan sebagai peneliti matematika, namun tetap pada dimensinya. Ruang dan waktu merupakan obyek berpikir. Jika kita tiada lagi berpikir, maka sudahlah kita terbebas dari ruang dan waktu itu sendiri. Seperti contoh 2 + 3 = 5 jika terbebas dari ruang dan waktu. Namun 2 + 3 belum tentu sama dengan 5 jika terikat pada suatu ruang dan waktu tertentu.